Sebuah kisah yang menghubungkan: ingatan India, kemanusiaan, dan masa depan.
Ikatan saya dengan Indonesia berakar kuat pada cinta dan kehilangan. Saya dan orang tua saya lahir di sana. Itu adalah negara tempat sejarah keluarga saya dimulai, tetapi juga negara tempat luka mendalam ditimbulkan.
Orang tua saya tumbuh dalam keadaan sulit. Ibu saya tinggal di panti asuhan sejak usia sebelas tahun. Ayah saya lahir di luar nikah, tanpa pengakuan, tanpa pernah mengenal ayah kandungnya. Setelah dipulangkan, ia harus memulai semuanya dari awal lagi, akhirnya membesarkan keluarga dengan lima anak, ddan menjadi spesialis teknis dan kepala inspektur di Pusat Komando untuk teknologi pengukuran dan kontrol jaringan gas Amsterdam.
Baru ketika ia berusia sembilan puluh tahun kebenaran terungkap: siapa ayahnya, seorang warga negara Belanda, seorang pegawai negeri sipil berpangkat tinggi dan insinyur pertanian. Seorang pria yang berstatus dan berpengaruh, namun tidak hadir dalam kehidupan putranya.
Ketika ia baru berusia tiga tahun, ia dipisahkan dari ibunya karena Julia menikah, tetapi suaminya menolak untuk menerima putranya. Anak itu menjadi masalah, masa lalu yang lebih disukai orang untuk dihapus daripada dirangkul. Apa yang terdengar seperti kisah pribadi yang mengharukan saat ini, bagi banyak orang pada saat itu, adalah tragedi yang tak terlihat: Ayah saya tidak pernah kehilangan cintanya kepada rakyat Indonesia, terlepas dari keadaan masa kecilnya yang sulit, kamp konsentrasi Jepang, pemenjaraannya di penjara Glodok, dan periode Bersiap di mana ia kehilangan putrinya, Ilse.
Sebuah drama yang terjadi di balik pintu depan, tetapi meninggalkan bekas luka yang dalam selama beberapa generasi.Dan sejarah ini bukanlah sejarah yang unik. Selama diaspora pasca-perang, lebih dari 300.000 orang Indo-Belanda meninggalkan Indonesia menuju Belanda. Banyak juga yang menemukan kehidupan baru di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Spanyol, dan Portugal. Tetapi di balik angka migrasi ini terdapat kisah hidup yang tak terhitung jumlahnya, tentang kehilangan, keterasingan, dan anak-anak yang tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tetap tak terjawab selama beberapa dekade.
Masa lalu ini ditandai dengan rasa sakit dan kehilangan. Namun, sesuatu yang istimewa tetap ada: ayah saya tidak pernah kehilangan cintanya kepada rakyat Indonesia. Ia terus percaya pada kemanusiaan, bahkan setelah semua yang telah dilakukan kepadanya. Saya membawa keyakinan itu bersama saya. Berdasarkan sejarah ini, dan terinspirasi oleh keinginan istri saya, yang meninggal terlalu cepat, saya mendirikan Yayasan KIDS in Dire Straits. Bukan karena rasa bersalah, tetapi karena cinta. Cinta kepada anak-anak yang hidup dalam situasi rentan saat ini, terlepas dari latar belakang atau keyakinan mereka. Kami percaya bahwa di mana penderitaan telah terjadi, penyembuhan juga dapat terjadi. Bersama dengan para donatur, sponsor, masjid, gereja, dan dana, kami ingin tidak hanya membantu anak-anak bertahan hidup tetapi juga menawarkan mereka perspektif, martabat, dan masa depan.
Keterlibatan Anda membuat perbedaan
Dengan berbagi tanggung jawab, kita menunjukkan bahwa kasih sayang, iman, dan kemanusiaan tetap menjadi kekuatan yang signifikan saat ini.
Apa yang ayah saya mulai dengan hatinya, ingin saya lanjutkan dengan tangan saya.
Amstelveenseweg 643
1081 JD Amsterdam
Belanda
+31 20 64 41 094
info@stichtingkids.org
www.stichtingkids.org
Nomor KvK: 97123994
Rabobank: IBAN NL05RABO 0144851229
Sejak 28 April 2025 terdaftar sebagai ANBI. Donasi, sumbangan, termasuk warisan, dapat dikurangkan dari pajak